SELAMAT DATANG DI BLOG SAYA DAN TERIMA KASIH ATAS KEDATANGANNYA

Rabu, 06 Maret 2013

Tafsir Tarbawy : KEWAJIBAN BERLAKU ADIL DAN BENAR


BAB II
 KEWAJIBAN BERLAKU ADIL DAN BENAR

1.      Q.S AL-MAIDAH : 8-10

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ

وَعَدَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ   (8)  اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

أُوْلَـئِك وَالَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا  (9)   وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيم

[1] (10)  أَصْحَابُ الْجَحِيم


MUFRODAT :
Jadilah                                    : كُونُوا  
Penegak (kebenaran)              : قَوَّامِينَ
Saksi                                       : شُهَدَاء
Adil                                        : الْقِسْطِ
Janganlah mendorong kamu  : لاَ يَجْرِمَنَّكُمْ
Kebencian                              : شَنَآنُ
Maha teliti                              : خَبِير
Menjanjikan                           : وَعَد
Penghuni neraka (jahim)      : أَصْحَا الْجَحِيمِ

TERJEMAH
8. wahai orang-orang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak kebenaran karena allah, (ketika) menadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada allah, sungguh allah maha teliti apa yang kamu kerjakan.
9. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar.
10. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu adalah penghuni neraka.

Ayat 8:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

8. Wahai orang-orang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak kebenaran karena allah, (ketika) menadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada allah, sungguh allah maha teliti apa yang kamu kerjakan.
TAFSIR
( Penjelasan Ayat Menurut Tafsir Al-Misbah)
Ayat ini masih merupakan lanjutan  pesan-pesan illahi diatas. Al-Biqa’i mengemukkan bahwa karena sebelum ini telah ada perintah untuk berlaku adil terhadap istri-istri, yaitu pada awal surat dan akan ada di pertenghan surat nanti, sedang ada di antara istri-istri itu yang non-Muslim (Ahl-kitab) karena surat ini telah mengizinkan untuk mengawininya, maka adalah sangat sesuai bila izin tersebut disusuli dengan perintah untuk bertakwa. Karena ayat ini menyuruh: Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi Qawwamin, yakni orang-orang yag selalu dan bersungguh-sungguh menjadi pelaksana yang sempurna terhadap tugas-tugas kamu, terhadap wanita dan lain-lain dengan menegakkan kebenaran demi karena Allah, serta menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kamu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil, baik terhadap keluarga istri kamu yang Ahl-kitab itu, maupun terhadap selian mereka. Berlaku adilah, terhadp siapa pun walau atas dirimu sendiri karena ia, yakni adil itu lbih dekat kepada takwa yang sempurna, dari pada selain adil. Dan bertakwalah kepda Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Setelah itu,ayat ini menunjukan kepada salah satu faktor penyimpangan dari keadilan dan memperingatkan kaum muslimin bahwa kebencian dan permusuhan kesukuan atau masalah masalah pribadi ,tidak boleh menghalangi pelaksanaan keadilan dan tidak boleh menyebabkan pelanggaran atas hak hak orang lain karena keadilan adalah sesuatu yang melampui itu semua .ayat diatas mengatakan dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil…..
Jadi terhadap merekapun kamu harus tetap memberi kesaksian sesuatu dengan hak yang patut mereka terima apabila mereka memang patut menerimanya. Juga, putusilah mereka sesuai dengan kebenaran. Karena, orang mukmin mesti mengutamakan keadilan daripada berlaku aniaya dan berat sebelah. Keadilan harus ditetapkan di atas hawa nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi, dan di atas rasa cinta dan permusuhan, apa pun sebabnya.
Karena pentingnya permasalahan,ayat diatas menelankan masalh keadilan sekali lagi,dan mengatakan …… Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa….
Kalimat ini merupakan penguat dari kalimat sebelumnya, karena sangat pentingnya soal keadilan untuk diperhatikan. Bahwa keadilan itu, adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan tanpa pandang bulu. Karena keadilan itulah yang lebih dekat kepada taqwa kepada Allah, dan terhindar dari murka-Nya. Meninggalkan keadilan adalah termasuk dosa besar, karena bisa menimbulkan berbagai kerusakan hingga robeklah segala aturan dalam masyarakat, dan putuslah segala hubungan antar individu, dan menjadi tengganglah pergaulan sesama mereka.
Dan pelihrahlah dirimu dari murka Allah dan hukuman-Nya, karena tak ada sesuatu apapun dari amalmu yang tersembunyi bagi Allah, baik amal lahiriyah maupun batiniyah. Dan hati-hatilah terhadap balasan Allah terhadapmu, dengan adil, bila kamu meninggalkan keadilan, balasannya didunia adalah kehinaan dan kenistaan, baik itu dilakukan oleh bangsa ataupun individu, sedangkan di akhirat ialah kesengsaraan pada hari hisab.
Dan karena keadilan adalah unsur yang paling penting dalam ketakwaan dan kesalehan ,maka untuk ketiga kalinya ayat diatasmenekankan pula bahwa…… Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan
Allah menganjurkan kepada orang-orang yamg beriman untuk selalu teguh melaksanakan kebenaran dan menjadi saksi dengan adil. Artinya berani mengungkapkan hal-hal yang benar di depan sipa pun,tanpa suatu tujuan atau pamrih apa pun, baik karena kerabat, harta ataupun kedudukan. Sebab keadilan merupakan barometer dari kebenaran.  
Bila terjadi kecurangan pada suatu umat, maka akan hilanglah dari orang-orang, kehancuran merajalela, hubungan ali persaudaraan akan terputus, dan akhirnya malapetaka yang akan menimpa seluruh umat, baik yang berlaku adil maupun yang berlaku curang.
Dalam surat ini ditegaskan bahwa sikap adil itu harus tetap ditegakkan, meskipun kepada musuh atau orang yang dibenci. Sebab sikap adil adlah yang palin dekat kepada ketakwaan.
Adapun juga berpendapat bahwa ayat an-nissa dikemukkan dalam konteks kewajiban berlaku adil terhadap diri, kedua orang tua dan kerabat, sehingga wajar kata al-qisth/keadilan yang didahulukan, sedang ayat Al-maidah diatas, dikemukkan dalam konteks permusuhan dan kebencian, sehingga yang perlu lebih dahulu diingatkan adalah keharusan melaksanakan segala sesuatu demi karena allah, karena hal ini yang akan lebih mendorong untuk meninggalkan permusuhan dan kebencian.
Diatas dikatakan bahwa Adil lebih dekat kepada takwa. Perlu dictat bahwa keadilan dapat merupakan kata yang meunjuk subtansi ajaran islam. Adil adalah menempatkan segal sesuatu pada tempatnya. Jika seseorang memerlukan kasih, maka dengan berlaku adil  anda dapat mencurakan kasih kepadanya. [2]

Ayat 9-10
وَالَّذِينَ كَفَرُواْ وَكَذَّبُوا    (9) وَعَدَ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

بِآيَاتِنَا أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيم
                                                                                                                           
TERJEMAH :
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, (bahwa) mereka akan mendapat ampunan dan pahala yang besar (9). Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu adalah penghuni neraka” (10).
TAFSIR
( penjelasan tafsir Al-misbah)
Setelah pada ayat yang lalu allah memerintahkan dan melarang, kini melalui kedua ayat diatas allah menggembirakan dan mengancam, dengan menyatakan: allah telah menjanjikan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang sesuai dengan isi hati mereka dan membuktikannya dengan beramal shaleh, bahwa untuk mereka ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan pahala yang besar, baik didunia lebih-lebih di akhirat sebagai buah dan imbalan amal-amal baik mereka. Adapun orang-orang yang kafir, yang menolak ajaran rasul dan mendustakan ayat-ayat kami, yang disampaikan oleh para rasul maka mereka itu – yang ditunjuk oleh ayat ini – bukan selain mereka yang sangat jauh dalam kekefirannya, serta amat jauh dari rahmat allah, adalah penghuni-penghuni neraka.
Janji allah pasti ditepati-Nya, karena sebab-sebab pengingkaran janji tidak dapat menyentuh allah. Biasanya seseorang tidak memenuhi janjinya jika ia tidak taahu apa yang akan terjadi atau tidak mampu memenuhi janjinya,atau takut dan ada kepentingan yang lain. Hal-hal tersebut tidak mungkin menyentuh Allah SWT. Sedikit pun  dankrena itu pasti janji-Nya yang baik terpenuhi. Memang janji-Nya yag berupa ancaman tidak dapat di penuhi-Nya, bukan karena hal-hal diatas, tetapi karena kasih sayang-Nya. Ancaman-Nya pun ketik disampaikan-Nya antara lain sekedar bertujuan menakut-nakuti, agar manusiamenghindari apa yang dilarang-Nya. Ancaman yang dibatalkan, pada saat seseorang mampu menjatuhkannya merupakan salah  satu hal yang terpuji.
Kata ( أَصْحَابُ ) ashhab adalah bentuk jamak dari kata (.......) shahib/yang menemani (teman). Yang menemani selaulu bersama yang ditemaninya, sehingga ashhab an-nar, adalah orang-orang yang selalu menemani dan ditemani oleh api neraka, tidak terlapas atau dapat melapasakan dari dirinya. Itulah yang dimaksud dengan terjemah penghuni neraka.
Allah menjelaskan janji kepada orang-orang yang beramal shaleh dan ancaman kepada orang-orang yang ingkar dari kebenaran.
Dan keadilan yang terambil dari kata adil (‘adl) dalam kamus besar bahasa indonesia diartikan:
-          Tidak berat sebelah/tidak memihak
-          Berpihak kepada kebenaran
-          Sepatutnya/ tidak sewenang-wenang.[3]

2. Q.S. AN-NAHL : 90

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ

 يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
KOSAKATA
Menyuruh                                                             : يَأْمُرُ
Memberi                                                    : إِيتَاء
Kerabat dekat                                       : ذِي الْقُرْبَى
Perbuatan keji                                           : الْفَحْشَاء
Kemungkaran                                           : الْمُنكَر
Permusuhan                                              : الْبَغْيِ
Dia memberi pengajaran kepadamu          : يَعِظُكُمْ
Agar / semoga                                                : لَعَلَّ
Ingat / mengambil pelajaran                      : تَذَكَّرُونَ

TERJEMAH:
“ Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”
TAFSIR
PENGERTIAN SECARA IJMAL
Dalam ayat diatas, Allah memerintahkan umat muslim untuk berlaku adil dan berbuat ihsan. Adil menurut bahasa adalah sama dan seimbang dalam segal hal, tidak bertambah dan tidak berkurang. Sedangkan menurut istilah, adil adalah memberi ganjaran kepada orang yang berbuat kebajikan dan menberi sanksi kepada orang yang berbuat kejahatan. Dan yang dimaksud de gan Ihsan adalah membalas kebaikan orang dengan balasan yang lebih baik dari yang diberikan dan memberi maaf kepada yang berbuat salah.

Tidak ada suatu akhlak baik pun,
 kecuali allah memerintahkannya.
Sa’id bin jubair meriwatkan dari qatadah mengenai firman Allah:

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“ Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan....” (An-nahl:90)
Bahwa tidak  ada satu akhlak baik pun yang dilakukan dan dipandang baik oleh orang-orang jahiliyah, kecuali Allah menyuruh melakukannya pula, dan tidak ada satu akhlak buruk pun yang mereka saling mencercanya, kecuali Allah melarang dan menumpasnya. Sesungguhnya yang dilarang Allah tidak lain akhlak yang tercela.
Sesungguhnya Allah yang menyuruh di dalam al-kitab yang diturunkan kepadamu ini, hai Rasul,untuk berlaku Adil. Tidak melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada kita,bersyukur kepada-Nya atas segala karunia-Nyadan memuja-Nya karen aia berhak untuk itu. Ibnu Abi Hatim mengeluarkan riwayat dari muhammad bin ka’b Al-Qurazhi: umar bin Abdul Aziz memanggil saya, lalu berkata, :terangkan kepadaku mengenai keadilan.” Saya berkata, “bagus! Anda berkata tentang perkara besar. Jadilah kamu bapak untuk anak kecil, anak orang tua, saudara untuk yang sebaya, dan untuk kaum wanitademikian pula. Kemudian jatuhkanlah kepada manusia sesuai dengan dosa dan ukuran tubuhnya, dan janganlah kamu memukul karema amarahmudengan satu kali mencabuk, sehingga kamu termasuk orang-orang yang melampaui batas.”
Di dalam kitab tarikh-nya, al-bukhori meriwayatkan bahwa Ali Abu thalib melewati suatu kaum yang sedang bercakap. Ali bertanya, ”apa yang sedang kalian percakapkan?” mereka menjawab, “kami sedang mempercakapkan adab yang baik.” Ali berkata “apakah kalian belum cukup dengan firman Allah di dalam kitab-Nya)

إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“sesungguhnyaAllah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan.......(an-Nahl:90)
Al-‘Adlu adalah keadilan, dan Al-Ihsan adlah pemberian karunia.
Ihsan adalah berbuat baik kepada
Orang yang berbuat buruk kepadamu.
Martabat ihsan yang paling tinggi ialah berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk. Hal ini diperintahkan oleh Nabi SAW. Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, bahwa Isa bin Maryam as. Berkata, “ihsan adalah kamu berbuat baik kepada oramg yang berbuat buruk kepadamu.” Didalam Shahihain diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar, bahwa Nabi saw. Bersabda:
“ Ihsan adalah kamu beribadah kepda Allah seakan kamumelihat-Nya, dan sekiranya kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Memberi kaum-kerabat apa yang mereka butuhkan. Didalam ayat terdapat petunjuk untuk mengadakan hubungan kekerabatan dan silaturahim, serta dorongan untuk bersedekah kepada mereka. Meskipun pemberia ini termasuk ihsan yang telah disebutkan, namun pengkhususannya di sini menunjukan adanya perhatian yang besar terhadapnya.
Setelah  me nyajikan tiga perkara yang diperintahkan-Nya, selanjutnya Allah menjadi tiga perkara yang dilarangnya:
-          Melarang untuk berlebihan cnderung mengikuti kekuatan syahwat, saperti berzina, meminum khamar, mencuri, dan tamak terhadap harta orang lain.
-          Yaitu apa yang diingkari oleh akal, berupa keburukan-keburukan yang lahir dari kemarahan, seperti memukul, membunuh, dan menganiaya manusia.
-          Belaku zhalim terhadap manusia, dan memperkosa hak-hak mereka.
Ringkasan:
Sesungguhnya Allah menyuruh beraku Adil, yaitu melaksanakan kebaikan sekedar memenuhi kewajiban, berbuat ihsan, yaitu menambah ketaaan dan pengagungan terhadap perintah Allah, da mengasihi makhluk-Nya, di antaranya yang paling mulia ialah mengadakan silaturahmi.
Dan melarang berlebiahan dalam memperoleh dalam meperoleh kesenangan syahwat yang tidak diterima oleh syara’ dan akal, berlebihan dalam mengikuti dorongan-dorongan amarah, dengan mendatangkan kejahatan kepada orang lain, menganiaya, dan mengarahkan bencan kepada mereka, serta menyombongkan diri terhadap manusia dan memalingkan muka dari mereka.
Allah menyuruh kalian untuk melakukan tiga perkara dan melarang dari tiga perkara tersebut, agar kalian dapat mengambil pelajaran, lalu kamu mengerjakan apa yang mengandung keridhaan Allah Ta’ala, dan kemaslahatan kalian di dunia serta di akhirat.[4]

( Penjelasan Ayat Menurut Tafsir Al-Misbah )
                                                        
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاء ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan….” (An-Nahl:90)
Al-‘Adlu terambil dari kata a’dala yang terdiri dari huruf huruf ain,dal dan lam .rangkaian huruf huruf ini mempinyai dua makna yang bertolak belakang,yakni lurus dan sama serta bengkok dan berbeda .Seseorang yang adil adalh yang berjalan lurus dan sikapnya selalu menggunakan ukuran yang sama,bukan ukuran ganda .persamaan itulah yang menjadikan seseorang yang adil tidak berpihk kepada salah seorang yang berselisih
Manusia dituntut untuk menegakan keadilan walau terhadap keluarga,ibu bapak dan dirinya, bahkan terhadap musuhnya sekalipun.keadilan utama yang dituntut adalah dari diri dan terhadap diri sendiri dengan jalan meletakan syahwat dan amarah sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama,bukan menjadikannya tuan yang mengarahkan akal dan tuntutan agamanya .
Kata Al-Ikhsan menurut Ar-Roghib digunakan untuk dua hal : pertama,memberi nikmat kepada pihak lain dan kedua,perbuataan baik.karena itu lanjutnya kata ihsan lebih luas dari sekedar ’’ memberi nikmat atu nafkah ’’maknanya bahkan lebih tinggi dan dalam dari kandungan makna ’’adil ’,karena adil adalah ‚’memperlakukannya lebih baik dari perlakuan terhadap anda’sedangkan ihsan adalah Ihsan adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu
Martabat ihsan yang paling tinggi ialah berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk. Hal ini diperintahkan oleh Nabi saw. Diriwayatkan dari As-Syabi’I, bahwa Isa bin Mariyam as berkata, “Ihsan adalah kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu. Ihsan bukan berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu. “Didalam shalihaini diriwayatkan dari Hadits Ibnu Umar, bahwa Nabi saw. Bersabda;
“Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan kamu melihatnya dan sekiranya kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya dia melihatmu.”
Memberi kaum kerabat apa yang mereka butuhkan. Di dalam ayat terdapat petunjuk untuk mengadakan hubungan kekerabatan dan silaturahmi, serta dorongan untuk bersedekah kepada mereka. Meskipun pemberian ini termasuk ihsan yang telah disebutkan, namun pengkhususan di sini menunjukkan adanya perhatian yang cukup besar terhadapnya.setelah menyajikan tiga perkara yang diperintahkan-Nya, selanjutnya Allah menjadikan tiga perkara yang dilarang-Nya:
a. Melarang untuk berlebihan cenderung mengikuti kekuatan syahwat, seperti berzina, meminum khamar, mencuri, dan tamak terhadap harta orang lain.Yaitu apa yang diingkari oleh akal, berupa keburukan-keburukan yang lahir dari kemarahan, seperti memukul, membunuh dan menganiaya manusia.
b. Berlaku dzalim terhadap manusia, dan memperkosa hak-hak mereka.ringkasan, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, yaitu melakukan kebaikan sekedar memenuhi bewajiban, berbuat ihsan yaitu menambah ketaatan dan pengagungan kepada Allah dan mengasihi makhluk-Nya di antara yang paling mulia ialah mengadakan silaturahmi.
c. Dan melarang berlebihan dalam meperoleh syahwat yang tidak diterima oleh syari’at dan akal, berlebihan dalam mengikuti dorongan-dorongan amarah, dengan mendatangkan kejahatan kepada orang lain, menganiaya dan mengarahkan bencana kepada mereka, serta menyombongkan diri terhadap manusia dan memalingkan muka dari mereka.
Allah menyuruh kalian untuk melakukan tiga perkara dan melarang dari tiga perkara tersebut, agar kalian dapat mengambil pelajaran, lalu kalian mengerjakan apa yang mengandung ridha Allah Ta’ala, dan kemaslahatan kalian di dunia serta di akhirat.
Dalam buku lain ayat ini ditafsirkan sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat ihsan dan memberi kepada keluarga yang dekat.” (pangkal ayat 90). Tiga hal yang diperintahkan oleh Allah supaya dilakukan sepanjang waktu sebagai alamat dari taat kepada Tuhan. Pertama jalan Adil: menimbang yang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan mana yang benar, mengembalikan hak kepada empunya dan tidak berlaku zalim atau menganiaya. Lawan dari adil adalah zalim, yaitu memungkiri kebenaran karena hendak mencari keuntungan diri sendiri, mempertahankan perbuatan yang salah, sebab yang bersalah itu ialah kawan atau keluarga sendiri. Maka selama keadilan itu masih terdapat dalam masyarakat pergaulan hidup manusia,  selama itu pula pergaulan aman sentosa,  timbul amanat dan percaya-mempercayai.
Sesudah itu diperintahkan pula melatih diri berbuat ihsan. Arti ihsan ialah mengandung dua maksud. Pertama selalu mempertinggi mutu amalan, berbuat yang lebih baik dari yang sudah-sudah, sehingga kian lama tingkat iman itu kian naik.maksud ihsan yang kedua adalah kepada sesama makhluk, yaitu berbuat lebih tinggi lagi dari keadlian. Misalnya kita memberi upah kepada seseorang yang melakukan pekerjaan. Kita berikan kepadanya upah yang setimpal dengan tenaganya. Pembayaran upah yang setimpal itu adalah sikap adil.tetapi jika lebih dari pada yang semestinya, sehingga hatinya besar dan ia gembira, maka pemberian yang berlebih itu dinamai ihsan. Lantaran itu maka ihsan adalah latihan budi yang lebih tinggi tingkatnya dari adil. Misalnya pula adalah seseorang yang berhutang kepada kita. adalah suatu sikap yang adil apabila hutang itu ditagih. Tetapi dia menjadi ihsan bila hutang itu kita maafkan.
Yang ketiga adalah memberi kepada keluarga yang dekat. Ini juga adalah lanjutan dari ihsan. Karana kadang-kadang orang yang berasal dari satu ayah dan ibu sendiripun tidak sama nasibnya,  ada yang murah rezeqinya lalu menjadi kaya raya, dan ada pula yang tidak sampai-menyampai. Maka orang yang mampu itru dianjurkan berbuat ihsan kepada keluarganya yang terdekat, sebelum ia mementingkan orang lain.
Ayat ayat yang memerintahkan berbuat kebajikan diatas tidak menjelaskan objeknya.hal ini untuk memberi makna keumuman,sehingga mencakup segala bidang dan objek yang dapat berkaitan dengan keadilan.Ikhsan dan pemberian yang dimaksud, baik terhadap manusia, binatang, tumbuh tumbuhan maupun terhadap benda benda mati dan baik berupa materi perlakuan maupun jasa. Masing masing disesuaikan dengan objek yang dihadapi.
Kata Al-Fahsyaa /keji adalah nama bagi semua perbuatan atau ucapan bahkan keyakinan yang dinilai buruk oleh jiwa dan akal yang sehat, serta mengakibatkan dampak buruk bukan saja bgi pelakunya tetapi juga bagi lingkungannya.
Kata Al-Munkar/Kemungkaran dari segi bahasa,berarti sesuatu yang tidak dikenal sehingga diingkari. Itu sebabnya ia dihadapi oleh kata Al-Ma’ruf /Yang dikenal. Dalam bidang budata kita dapat membenarkan : “Apabila ma’ruf sudah jarang dikerjakan,ia bisa beralih menjadi munkar, sebaliknya bila munkar sering dilakukan ia menjadi ma’ruf.“
Munkar bermacam macam dan bertingkat tingkat ada yang berkaitan dengan pelanggaran terhadap Alloh baik dalam bentuk ibadah maupun non ibadah dan ada juga yang berkaitan dengan manusia serta lingkungan.
Dalam pandangan Ibn’Asyur munkar adalah sesuatu yang tidak berkenan dihati orang orang normal serta tidak direstui oleh syariat baik ucapan ataupun perbuatan.
Kata Al-Baghyi/penganiayaan terambil dari kata bagha yang berarti meminta atu menuntut , kemudian maknanya menyempit sehingga ia digunakan dalam arti menuntut hak pihak lain tanpa hak dan dengan cara aniaya atau tidak wajar. Kata tersebut termasuk segala pelanggaran hak dalam bidang interaksi sosial baik pelanggaran itu lahir tanpa sebab seperti perampokan pencurian maupun dengan atau dalih yang tidak syah, bahkan atua tujuan penegakan hukum tetapi dalam pelaksanaanya melampui batas.
Diakhir ayat Alloh berfirman ” öNà6¯=yès9 šcrã©.x‹s? agar kamu dapat selalu ingat yang menjadi penutup ayat ini dapat dipahami sebagai isyarat bahwa tuntuna-tuntuna agama,  atau paling tidak nilai-nilai yang disebut diatas,  melekat pada nurani setiap orang dan selalu didambakan wujudnya. Karena nilai-nilai tersebut bersifat Universal. Pelanggaranya dapat mengakibatkan kehancuran kemanusiaan.[5]

3.      Q.S. AN-NISSA : 105

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ وَلاَ تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيماً

MUFRODAT :
Agar engkau mengadili                   : لِتَحْكُمَ
Telah diajarkan Allh kepadamu       : أَرَاكَ اللّهُ
Para pengkhianat                             : لِّلْخَآئِنِينَ
Penentang                                        : خَصِيماً       
TERJEMAH:
“ Sungguh, kami telah menurunkan kitab (Al-qur’an) kepadamu (Muhammad) membawa kebenaran, agar engkau mengadili antara  manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, dan janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah), karena (membela0 orang yang berkhianat.”

TAFSIR
Tasir Al-Azhar.....
“ Sesungguhnya telah kami turukan kepada engkau kitab itu (al-qur’an), dengan kebenaran.”(pangkal ayat 105)
Measkipun pada waktu itu al-qur’an belum membentuk sebuah kitab atau buku , namun wahyu itu al-qur’an diturunkan tuhan kepada perintah. Di dalam ayat ini Nabi sudah diperingatkan bahwa dalam mengambil suatu kebajikan, hendaknya dia selalu berpedoman kepada wahyu yang telah diturunkan tuhan kepadanya. Di dalan “kitab itu” , jika datang orang fasik membawa suatu berita, hendaknya mencari keterangan, selidiki nilai berita yang dibawahnya itu, ( surat 59, al-hujurat ayat 6). Di dalam kitab itu juga telas dijelaskan: “kalau hendak menghukumkan, hendaklah menghukum dengan adil”. (surat an-nissa ayat 57) yang telas terlebih dahulu keterangannya. Dengan dasar-dasar yang tersebut didalam kitab itulah hendaknya engkau menghukum. “ Supaya engkau hukumkan di antara manusia dengan apa yang telah memperihatkan Allah kepada engkau”. Arti tegasnya ialahdengan memakai dasar kitab tuntutan tuhan itu, hendaklah engkau menghukum. Dan diberi kelak engkau oleh tuhan petunjuk, yaitu diperihatkan oleh tuhan kepada engkau jalan mana yang muslihat yang akan engkau tempuh. Ayat ini memberikan bimbingan yang tegas kepada kita bahwasanya rasul sebagai pemegang hukum, dengan memegang dasar al-kitab al-hakim, boleh memakai ijtihad, boleh mengambil keputusan, yang telah diperlihatkan Allah kepadanya.
Di dalam ayat 105 tadi tuhan telah menyuruh Nabi-Nya menghukum dengan apa yang telah diperlihatkan Allah kepadanya. Artinya ialah dengan ma’rifat dan ilmu dan wahyu yang dilimpahkan tuhan kepadanya, sehingga laksana dilihatnya nyata dengan matanya apa yang terlihat oleh hatinya. Karena ailmu yaqin yang timbul dalam hati, lebih nyat aoleh penglihatan hati daripadandilihat oleh mata. Sebab itu maka saiyidina umar bin khathab memberi peringantan kepada kita, supaya janganlah seseorang yang telah berhasil memutuskan sesuatu perkara mangatakan bahwa dia telah memutuskan penglihatan nya yang diberikan Allh kepadanya. Sebabteropong penglihatan batin yang demikian jit hanya diberikan tuhan kepada RasulNya. Kita hanya berijtihad, dan hasil ijtihad tidaklah yakin, melainkan Zhan  semata-mata. Sedang Ra’yi atau pandangan Rasulullah adalah benar, sebab tuhan yang memberikan penglihatan.  
Tetapi tidaklah  boleh terburu mengambil keputusan, sebelum terlebih dahulu bersadaar kepada dasar yang kuat, yaitu kitab Allah. Sebab kitab adalah kebenaran yang mutlak sedang ijtihad manusia bisa salah atau khilaf, kemudian  ditekankan lagi di ujung ayat: ” Dan janganlah engkau terhadap oarang-orang yang berkhianat itu juga pembela”. (ujung ayat 105).
Maksud sebab turu ayat yang sudah terang. Yaitu pertama jangan terburu-buru menerima saja fitnah yang dibuat oleh si thu’mah terhadap yahudi itu, atau si Busair terhadap Lubaid bin Sahl. Dan sebelum menjatuhkan hukuman, hendaklah ingat terlebih dahulu sadaran sebagai hakim islam, yaitu Kitab Allah. Di dalam mengambil mengambil hukum dari kitab Allah itu, bolehkah engkau memakai ijtihadmu sendiri menurut apa yang dipelihatkan yuhan kepada engkau dalam cara timbangan yang sihat. Dan dasar yang utama pula harus diperlihatkan, ialah karena hendak menegakkan keadilan jangan membela orang yang berlaku aniaya, walaupun yang aniaya orang itu yahudi.[6]
Ayat 105 ini menjelaskan kepada para penegak hukum agar senantiasa berpegang kepada Al-qur’an dalam membuktikan kebenaran ketika menetapkan hukum terbujuk dan tertipu oleh argumen- argumen orang-orang yang senggaja inginberkhianat di dalam penegak hukum, yang karena argumennya yang hebat yang dapat memutarbalikan fakta sehingga benar mengatakan salah an yang salah di katakan benar. Intinya ayat ini menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan dengan tidak memihak kepada siapa pun.[7]. 

BAB III
KESIMPULAN
menurut bahasa, Adil adalah sama dan seimbang dalam segal hal, tidak bertambah dan tidak berkurang.
ADIL
menurut istilah, adil adalah memberi ganjaran kepada orang yang berbuat kebajikan dan menberi sanksi kepada orang yang berbuat kejahatan.
 Keadilan yang terambil dari kata adil (‘adl) dalam kamus besar bahasa indonesia diartikan:
-          Tidak berat sebelah/tidak memihak
-          Berpihak kepada kebenaran
-          Sepatutnya/ tidak sewenang-wenang
Orang yang bersikap Adil akan mendapat ampunan dan pahala di sisi Allah, sedangkan orang yang tidak besikap Adil akan menjadi penghuni neraka. Sikap Adil dikelompokan di dalam Akhlak yang baik sejajar dengan ihsan atau berbuat kepada orang lain, memberi kepada kaum kerabat, dan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sikap adil harus diperlakukan kepada siapa pun tanpa pandang bulu dan tidak memihak dalam menetapkan suatu hukum meskipun kepada musuh.
Beberapa hal yang berkaitan dengan masalah diatas :
1.      Hendaklah kita berlaku adil terhadap diri sendiri,kel;uarga maupun orang lain
2.      berlaku baik terhadap diri sendiri kerabat dan kepada lingkungan yang ada disekitar kita
3.      perbanyaklah perbuatan perbuatan yang ma’ruf
4.      Jauhilah perbuatan perbuatan yang munkar yang dapat memberikan kemudorotan bukan hanya kepada kita bahkan terhadap lingkungan yang ada disekitar kita.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA


Shihab. M. Quraish. 2004. Tafsir al misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran Vol.3. Jakarta: Lentera Hati
_______________. 2004. Tafsir al misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran Vol.5. Jakarta: Lentera Hati
Dr.H.Moh.Matsna.Ma. 2008.Al-qur’an hadits.Semarang: PT Toha Putra
Mushthafa,Ahmad Al-maraghi.1991.tafsir Al-maraghi 14.semarang:CV Toha Putra
Amrullah,Abdulkarim,Abdullah,H.Dr.Prof. terjemah tafsir Al-azhar jilid 2.pustaka nasional.singapura:2007
Hamka,Prof.Dr.terjemah tafsir Al-Azhar,juz XIII.pustaka panjimas.jakarta:1990
A. Rahman Ritho’a, dkk, 2003, Ensiklopedi Hukum Islam,Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve



[1] Surat Al-maidah : 8-10
[2] M. Quraish  Shihab. 2004. Tafsir al misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran Vol.3. Jakarta: Lentera Hati

[3] M. Quraish.Shihab. 2004. Tafsir al misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran Vol.3. Jakarta: Lentera Hati

[4] Ahmad Al-maraghi Mushthafa.1991.tafsir Al-maraghi 14.semarang:CV Toha Putra.hal.234-242

[5] M. Quraish Shihab. 2004. Tafsir al misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Quran. Jakarta: Lentera Hati

[6] Prof.Dr.H.Amrullah Abdulkarim Abdullah.terjemah tafsir Al-azhar jilid 2.pustaka nasional.singapura:2007
[7] Dr.H.Moh.Matsna.Ma.Al-qur’an hadits.Pt Toha Putra.Semarang:2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar